Hibura
Kamis, 20 November 2025 14:03 WIB

Mantan petinggi Square Enix sebut gamer tak peduli dengan AI di gim

Menurut Jacob Navok, mantan eksekutif Square Enix, mayoritas konsumen, terutama Gen Z, cenderung bersikap acuh tak acuh terhadap penggunaan AI dalam video game.

Penggunaan AI dalam video game dan karya kreatif masih menjadi salah satu topik etika yang paling banyak diperdebatkan di kalangan enthusiast. Namun, menurut Jacob Navok, CEO Genvid dan mantan Direktur Bisnis di Square Enix Holdings, konsumen pada umumnya bersikap acuh tak acuh terhadap isu ini.

Sikap acuh tak acuh konsumen inilah yang mendorong perubahan besar di industri gaming. Bagi Navok, perdebatan etika nggak lagi sejalan dengan realitas pasar, terutama di kalangan gamer muda.

Case Study Steal a Brainrot: Bukti Gak Pedulinya Gamer Muda

Navok mengutip kesuksesan game Roblox berjudul Steal a Brainrot sebagai contoh utama. Game yang menampilkan model 3D berdasarkan karakter yang disebut "AI slop" ini telah menjadi hit besar di kalangan gamer Gen Z, mencapai puncaknya hingga sekitar 30 juta pemain concurrent.

Dilansir dari laman Wccftech (20/11), popularitas masif ini mengisyaratkan bahwa generasi gamer saat ini nggak terlalu memedulikan masalah etika art yang dihasilkan AI, dan generasi mendatang bahkan akan lebih cuek.

Untuk menggambarkan fenomena ini, Navok mengutip film The Dark Knight Rises, mengatakan: "You merely adopted the slop, I was born in it (Kamu hanya mengadopsi slop, aku lahir di dalamnya)".

Kutipan ini secara blak-blakan menunjukkan bahwa Gen Z, yang tumbuh dengan konten yang cepat dan random (brainrot), nggak memandang konten yang dihasilkan AI sebagai hal yang aneh atau bermasalah, berbeda dengan pandangan generasi sebelumnya.

Dengan basis konsumen yang secara umum nggak tertarik pada perdebatan etika, penggunaan AI dalam video game diprediksi akan meningkat secara signifikan. Eks eksekutif Square Enix tersebut mencatat bahwa banyak studio sudah menggunakan AI generation pada fase konsep.

Selain itu, banyak developer yang menggunakan tool seperti Claude untuk kode, menunjukkan bahwa dalam waktu dekat, akan sulit menemukan studio indie yang nggak memanfaatkan tools AI dalam proses pengembangan mereka.

Kualitas vs. Penjualan: AI Slop Roblox Nghasilin USD80 Juta Lebih

Meskipun sebagian besar konsumen, terutama generasi muda, mungkin nggak peduli dengan AI, cara penggunaannya sangat menentukan kualitas produk. Namun, hal ini belum tentu berlaku untuk penjualan dan pendapatan. Navok mencatat bahwa Steal a Brainrot di Roblox diperkirakan menghasilkan pendapatan signifikan, antara USD80 hingga USD90 juta sejak dirilis, dan tetap populer dengan 20 juta pemain concurrent dua minggu berturut-turut bulan ini, mengungguli game yang secara etis lebih baik.

ARC Raiders dari Embark Studios di sisi lain adalah contoh utama bagaimana AI dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman pemain dengan cara yang beretika. Studio ini menggunakan AI untuk menghasilkan voice line tambahan, namun memberikan kompensasi secara etis kepada pengisi suara yang suaranya dijadikan sumber materi.

Implementasi AI lain yang menarik terlihat di Where Winds Meet milik Everstone Studio, yang menampilkan beberapa NPC didukung oleh AI chatbots, menciptakan interaksi yang bervariasi, dari yang sesuai hingga yang sangat lucu.

Sisi Gelap dan Kontroversi: Call of Duty Gunakan Art AI yang Zonk

Namun, ada implementasi yang emang menuai kontroversi dan jatuh ke kategori "AI slop" yang ditentang banyak orang. Contohnya adalah Call of Duty: Black Ops 7, yang mengganti art asli untuk calling cards dengan gambar hasil AI-generated yang dinilai jauh dari memuaskan (leave a lot to be desired). Kasus-kasus seperti ini menunjukkan dilema kualitas dan etika yang terus memanas, meskipun faktor tersebut nggak secara langsung menghentikan konsumen untuk mengonsumsi game tersebut.