Hibura
Selasa, 21 Juli 2026 09:01 WIB

Eropa beri denda AliExpress 10 triliun karena edarkan barang palsu

Sebuah kabar terbaru mengungkap Uni Eropa ajukan denda Rp10 triliun ke AliExpress karena edarkan barang palsu dan masalah pekerja.

Uni Eropa resmi mencetak rekor sanksi finansial terbesar sepanjang sejarah. Belum lama ini, komisi Eropa secara resmi menjatuhkan hukuman denda masif senilai 550 juta euro atau sekitar Rp10.252.000.000.000 kepada raksasa e-commerce asal Tiongkok yaitu AliExpress. Keputusan tegas ini diambil setelah platform belanja daring milik grup Alibaba tersebut terbukti lalai dan membiarkan peredaran luas produk palsu serta barang berbahaya di wilayah benua biru.

Tidak kenal ampun

Sanksi super besar ini menjadi pembuktian taji pertama yang sangat agresif dari implementasi Undang-Undang Layanan Digital atau DSA di Eropa. Regulasi ketat ini mewajibkan seluruh platform digital skala besar untuk secara aktif mengawasi, menyaring, dan membersihkan ekosistem dagang mereka dari barang-barang ilegal yang mengancam keselamatan konsumen.

Langkah Komisi Eropa ini mengirimkan sinyal peringatan keras kepada seluruh korporasi teknologi global bahwa faktor skala bisnis yang raksasa tidak akan pernah bisa dijadikan alasan untuk memaklumi kelalaian sistem pengawasan internal.

Apa saja detailnya?

Skandal Batas Waktu Sortir Puluhan Detik dan Kegagalan Respons Notifikasi

  • Beban Kerja Karyawan yang Tidak Masuk Akal: Investigasi mendalam yang sudah bergulir sejak Maret 2024 membongkar fakta dapur operasional AliExpress yang sangat memprihatinkan. Tim penyelidik Komisi Eropa menemukan bahwa perusahaan tidak memiliki jumlah staf yang cukup untuk melakukan fungsi pengawasan mutu secara layak. Para karyawan yang bertugas menyaring kelayakan produk sering kali hanya diberikan waktu beberapa puluh detik saja untuk mengetuk keputusan apakah sebuah barang sudah memenuhi standardisasi keamanan Uni Eropa yang sangat rumit.
  • Mendiamkan Jutaan Produk yang Telah Ditandai: Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk Kedaulatan Teknologi, Keamanan, dan Demokrasi Henna Virkkunen memaparkan bahwa penyidik menemukan jutaan item kosmetik berbahaya, mainan anak di bawah standar, hingga pakaian palsu tetap melenggang bebas di etalase digital. Barang-barang tersebut terbukti tetap aktif diperjualbelikan secara bebas bahkan setelah sistem menerima tumpukan laporan peringatan dari konsumen maupun otoritas perlindungan konsumen setempat.

Ketimpangan Kompetisi Dagang dan Data Kegagalan Sektor Kosmetik

  • Ancaman Nyata Bagi Korporasi yang Patuh Hukum: Pihak berwenang Eropa menegaskan bahwa kelalaian AliExpress tidak hanya membahayakan kesehatan masyarakat secara fisik melainkan juga menciptakan iklim persaingan usaha yang sangat tidak sehat. Tindakan pembiaran harga murah dari barang-barang ilegal ini dinilai sangat tidak adil bagi jajaran perusahaan lokal maupun internasional lainnya yang sudah menghabiskan banyak modal demi mematuhi seluruh rantai aturan keselamatan Uni Eropa.
  • Data Buruk Kualitas Produk Impor: Berdasarkan pangkalan data investigasi terdahulu, tingkat ketidakpatuhan produk pada platform belanja asal Tiongkok seperti Shein, Temu, dan AliExpress tercatat berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Sebanyak 65 persen produk kosmetik, 63 persen suplemen makanan, serta 60 persen alat pelindung diri seperti helm proyek dan sepatu pelindung jari besi steel-toe boots yang beredar di sana terbukti gagal memenuhi sertifikasi keamanan standar baku Eropa.

Penolakan Manajemen AliExpress dan Pembukaan Opsi Banding Hukum

  • Pernyataan Keberatan Raksasa Hangzhou: Pihak manajemen AliExpress langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutuk keputusan denda tersebut karena dinilai terlampau berlebihan serta tidak proporsional. Perusahaan berkilah bahwa nominal hukuman tersebut sama sekali tidak mencerminkan kerangka kerja kepatuhan hukum yang telah mereka bangun serta berbagai langkah perbaikan proaktif yang sudah mereka suntikkan ke dalam sistem aplikasi selama beberapa bulan terakhir.
  • Proses Peninjauan Dokumen Secara Hati-Hati: Meskipun menyatakan ketidaksetujuannya secara terbuka di hadapan media massa, perwakilan AliExpress masih enggan membeberkan apakah mereka akan segera melayangkan gugatan banding resmi ke pengadilan tinggi Eropa atau tidak. Manajemen menyatakan saat ini sedang fokus mempelajari seluruh butir keputusan dokumen dari Komisi Eropa secara saksama guna mempertimbangkan segala opsi hukum yang tersedia demi menyelamatkan reputasi dagang mereka di pasar internasional.

Pax insight

Penjatuhan denda rekor kepada AliExpress di pertengahan bulan Juli 2026 ini mempertegas berakhirnya era kebebasan tanpa batas bagi para raksasa e-commerce lintas negara di pasar Eropa. Langkah tegas Komisi Eropa membuktikan bahwa pemanfaatan algoritme rekomendasi pintar wajib berjalan beriringan dengan tanggung jawab keamanan fisik konsumen. Tantangan terbesar bagi AliExpress dan grup Alibaba selanjutnya adalah melakukan perombakan total pada sistem kecerdasan buatan pemindai produk mereka agar mampu melakukan penyaringan otomatis secara presisi tanpa perlu mengandalkan tenaga manusia yang diburu waktu puluhan detik.

Apa selanjtunya?

Melihat ketegasan Komisi Eropa yang menjatuhkan denda hingga Rp10,2 triliun kepada AliExpress akibat maraknya mainan dan kosmetik berbahaya di aplikasinya, apakah menurut Anda tindakan hukum agresif seperti ini sudah sangat tepat untuk melindungi masyarakat, atau justru berpotensi membatasi pilihan konsumen dalam mendapatkan barang-barang dengan harga yang jauh lebih murah?