Gawai
Kamis, 1 Januari 2026 18:01 WIB

Ini apa yang bisa kita harapkan hadir di CES 2026

CES 2026 pamerkan laptop Intel Panther Lake dan Snapdragon X2. Namun, lonjakan harga RAM hingga 50% membayangi inovasi performa tersebut.

Gelaran Consumer Electronics Show (CES) 2026 yang berlangsung pada 6–9 Januari di Las Vegas kembali menjadi kiblat utama bagi masa depan industri komputer jinjing. Pameran tahun ini bukan sekadar ajang unjuk gigi bagi vendor perangkat keras, melainkan sebuah medan pertempuran bagi tiga raksasa chipset: Intel, AMD, dan Qualcomm.

Fokus utama pasar laptop tahun ini tertuju pada peningkatan performa kecerdasan buatan (AI) lokal dan efisiensi daya yang lebih ekstrem. Namun, di balik kemilau inovasi tersebut, terdapat tantangan besar berupa tren kenaikan harga memori (RAM) yang diprediksi akan mengubah peta harga dan konfigurasi laptop secara signifikan bagi konsumen di seluruh dunia.

Intel Panther Lake: Ambisi Reset Standar Performa

Intel Panther Lake atau Core Ultra Series 3 menjadi sorotan utama karena merupakan platform pertama yang dibangun di atas proses manufaktur Intel 18A yang sangat canggih. Prosesor ini dirancang untuk mengintegrasikan efisiensi daya tinggi khas Lunar Lake dengan kekuatan komputasi besar milik Arrow Lake dalam satu paket silikon.

Salah satu peningkatan yang paling mencolok adalah penggunaan arsitektur grafis Intel Arc Xe3 (Celestial) yang diklaim mampu memberikan performa visual hingga 50 persen lebih baik dari generasi sebelumnya. Dengan NPU 5 yang mampu menembus 50 TOPS, Intel berupaya merebut kembali kepercayaan para produsen laptop yang sebelumnya sempat melirik kompetitor untuk desain perangkat yang lebih tipis dan hemat energi.

AMD Gorgon Point: Strategi Refinasi yang Solid

Di sisi lain, AMD memilih pendekatan yang lebih terukur melalui seri Ryzen AI 400 yang secara internal dikenal dengan kode "Gorgon Point". Alih-alih melakukan perombakan total, AMD lebih fokus pada penyempurnaan arsitektur Zen 5 dan Zen 5c yang dipadukan dengan grafis terintegrasi RDNA 3.5.

Pembaruan paling signifikan terletak pada XDNA 2 NPU yang kini mampu menghasilkan performa AI hingga 55 TOPS, sedikit melampaui target awal para kompetitornya. Strategi ini menjadikan laptop berbasis AMD tetap menjadi pilihan favorit bagi para kreator dan pengguna profesional yang menginginkan keseimbangan antara performa multi-core yang tangguh dan efisiensi operasional tanpa suara bising dari sistem pendingin.

Snapdragon X2 dan Ambisi Dominasi Arsitektur Arm

Qualcomm tidak ingin ketinggalan dengan memamerkan Snapdragon X2 Elite dan varian tertinggi X2 Elite Extreme di lantai pameran CES 2026. Dibangun dengan proses 3nm dan inti CPU Oryon generasi ketiga, chipset ini membawa jumlah inti hingga 18 unit untuk varian tertinggi dengan kecepatan boost mencapai 5GHz.

Keunggulan mutlak Qualcomm terletak pada Hexagon NPU yang mampu memberikan performa AI hingga 80 TOPS, menjadikannya prosesor paling kapabel untuk beban kerja AI lokal saat ini. Melalui Snapdragon X2, Qualcomm berupaya menghapus stigma bahwa laptop berbasis Arm hanya cocok untuk pekerjaan ringan, dengan menawarkan performa grafis dan kompatibilitas aplikasi yang jauh lebih matang bagi ekosistem Windows.

Eksperimen Desain: Layar Gulung hingga Kolaborasi ProArt

Selain persaingan komponen internal, CES 2026 juga menjadi saksi lahirnya berbagai desain laptop yang sangat eksperimental. Lenovo mencuri perhatian dengan prototipe Legion Pro Rollable, sebuah laptop gaming yang layarnya dapat digulung secara horizontal dari format 16:9 menjadi ultrawide 21:9.

Di sisi lain, ASUS memperkenalkan ProArt GoPro Edition, sebuah laptop tangguh yang dirancang khusus untuk para petualang dan kreator lapangan dengan ketahanan standar militer serta integrasi fitur premium dari GoPro. Munculnya desain-desain unik ini menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi pada CPU terbaru memberikan ruang lebih bagi para insinyur untuk mengeksplorasi bentuk fisik perangkat tanpa khawatir akan masalah suhu atau daya tahan baterai.

Realitas Pahit Kenaikan Harga RAM dan Penyimpanan

Sayangnya, kemajuan teknologi prosesor ini harus berbenturan dengan realitas pasar memori yang sedang mengalami krisis pasokan. Laporan industri menyebutkan bahwa harga RAM diprediksi akan melonjak hingga 50 persen pada tahun 2026 akibat prioritas produksi yang dialihkan ke sektor server dan pusat data AI.

Dampaknya sudah mulai terasa, di mana vendor besar seperti Dell dan Lenovo dilaporkan telah menaikkan harga jual laptop mereka di kisaran 15 hingga 20 persen sejak akhir tahun 2025. Situasi ini memaksa konsumen untuk membayar lebih mahal demi mendapatkan kapasitas memori yang memadai, atau terpaksa menerima spesifikasi standar yang lebih rendah guna menjaga harga tetap terjangkau di level entry-level.

Navigasi Konsumen di Pasar Laptop Tahun 2026

Kombinasi antara peningkatan performa CPU yang pesat dan inflasi harga komponen memori menciptakan paradoks bagi pembeli laptop di tahun 2026. Meskipun laptop terbaru menawarkan kemampuan AI dan efisiensi yang luar biasa, keterbatasan RAM dapat menjadi penghambat utama dalam menjalankan fitur-fitur canggih tersebut secara optimal.

Para analis menyarankan agar konsumen lebih teliti dalam memilih konfigurasi perangkat dan mempertimbangkan investasi pada memori yang lebih besar sejak awal pembelian. CES 2026 pada akhirnya memberikan gambaran bahwa masa depan komputasi mobile sangatlah cerah secara teknis, namun memerlukan perencanaan anggaran yang lebih matang bagi siapa pun yang ingin mengadopsi teknologi terbaru ini.