Gawai
Rabu, 3 September 2025 18:04 WIB

Google menang di kasus antimonopoli, tak harus lepas Chrome

Hakim federal memutuskan Google tak perlu mendivestasi browser Chrome, namun harus menghentikan kesepakatan eksklusif dan berbagi sebagian data pencarian dengan pesaing.

Lebih dari setahun setelah seorang hakim federal memutuskan bahwa Google telah bertindak ilegal untuk mempertahankan monopoli dalam pencarian internet, kini hadir putusan terbaru. Putusan tersebut menyatakan bahwa Google tidak harus mendivestasi peramban Chrome.

Menanggapi putusan tahun lalu, Departemen Kehakiman (DOJ) telah mengusulkan agar Google dipaksa menjual Chrome. Namun, dalam keputusan setebal 230 halaman, Hakim Amit Mehta mengatakan bahwa permintaan pemerintah tersebut "berlebihan". "Google tidak akan diwajibkan untuk mendivestasi Chrome; pengadilan juga tidak akan menyertakan divestasi bersyarat dari sistem operasi Android dalam putusan akhir," tulis Mehta, seperti dikutip dari laman Engadget (3/9).

Namun, Google tidak lagi diizinkan untuk membuat kesepakatan eksklusif terkait distribusi pencarian, Google Assistant, Gemini, atau Chrome. Misalnya, Google tidak bisa lagi mengharuskan produsen perangkat untuk memasang aplikasi mereka agar mendapatkan akses ke Play Store. Perusahaan juga tidak boleh mengkondisikan pembagian pendapatan pada penempatan aplikasinya.

Meski begitu, Google masih bisa melanjutkan pembayaran kepada mitra—seperti Apple—untuk memasang pencarian dan aplikasi lain di produk mereka. Mehta mengatakan bahwa mengakhiri perjanjian ini dapat menyebabkan "kerugian hilir bagi mitra distribusi, pasar terkait, dan konsumen".

Mehta juga memutuskan bahwa Google perlu membagikan sebagian data pencariannya dengan para pesaing di masa depan. "Membuat data tersedia bagi pesaing akan mempersempit kesenjangan skala yang diciptakan oleh perjanjian distribusi eksklusif Google dan, pada gilirannya, kesenjangan kualitas yang mengikutinya," tulisnya. Namun, perusahaan tidak diwajibkan untuk menyerahkan data terkait iklan mereka.

Putusan ini sebagian besar dianggap sebagai kemenangan bagi Google, yang sebelumnya berargumen bahwa divestasi Chrome atau Android "akan merugikan warga Amerika dan kepemimpinan teknologi global Amerika". Dalam sebuah pernyataan, Google mengatakan memiliki "kekhawatiran" tentang beberapa aspek dari putusan tersebut.

"Keputusan hari ini mengakui seberapa banyak industri telah berubah melalui munculnya AI, yang memberi orang lebih banyak cara untuk menemukan informasi," kata perusahaan. Google juga menyatakan akan meninjau keputusan tersebut dengan cermat karena akan berdampak pada pengguna dan privasi mereka.