Industri memori saat ini sedang mengalami 'supply shock' besar-besaran, yang mendorong produsen memasuki fase panic buying untuk menimbun persediaan. Kenaikan permintaan yang signifikan terjadi di segmen DRAM (Dynamic Random-Access Memory), didorong oleh pembangunan data center yang masif. Akibatnya, baik pemasok maupun pelanggan kini bergegas mengamankan tingkat inventaris mereka sebagai persiapan menghadapi kekurangan pasokan yang diperkirakan akan berlangsung lama.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari laman DigiTimes (17/11), produsen hardware besar seperti ASUS dan MSI telah "memborong secara besar-besaran di spot market" untuk memori segmen konsumen. Ini menunjukkan kekhawatiran yang mendalam di tingkat vendor.
Kekurangan pasokan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2027, yang berarti harga RAM diprediksi akan tetap melambung setidaknya selama satu tahun ke depan. Parahnya lagi, beberapa supplier telah menghentikan penyediaan kuotasi harga, memperburuk ketidakpastian pasar.
Data Center Ganas: Dorong Permintaan RDIMM dan HBM ke Titik Tertinggi
Permintaan masif ini terutama didorong oleh kebutuhan data center. Para CSP (Cloud Service Provider) bergerak agresif untuk mengamankan pasokan modul RDIMM (Registered DIMM), yang sangat penting untuk server. Sementara itu, permintaan terhadap HBM (High Bandwidth Memory) yang sangat krusial bagii data center AI, telah mencapai titik tertinggi baru. Tren ini diperkirakan akan berlanjut selama beberapa kuartal ke depan. Sayangnya, bagi pasar PC konsumen, kabar ini jelas nggak bagus sama sekali.
Persediaan Aman Hanya Beberapa Minggu: Dampak Buruk untuk Pasar Konsumen
Dampak langsung dari supply shock ini sudah terasa di pasar ritel. Dalam laporan terbaru, diperkirakan harga produk konsumen akan naik jika kekurangan DRAM terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini karena tingkat inventaris DRAM yang ada di tingkat vendor diklaim hanya akan bertahan selama 'beberapa minggu' saja.
Pasalnya, kendala pasokan DRAM yang terjadi secara tiba-tiba ini nggak diantisipasi sama sekali sebelumnya oleh sebagian besar pelaku industri.
Salah satu alasan utama mengapa kekurangan pasokan ini bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan adalah karena industri DRAM secara umum sempat berada dalam periode 'downtrend' sebelum hype AI dimulai. Akibatnya, supplier utama seperti Samsung dan SK Hynix telah mengurangi kapasitas produksi DRAM mereka untuk menjaga profitabilitas. Ketika permintaan tiba-tiba melonjak, rantai pasokan perlu waktu berbulan-bulan untuk menyesuaikan diri dan memenuhi kapasitas produksi ekstra yang dibutuhkan.
Bagi para supplier memori, lonjakan permintaan yang gigantic ini jelas merupakan bonus besar. Kekurangan pasokan memungkinkan mereka memegang kendali harga dan memastikan margin keuntungan yang tinggi setelah periode downtrend. Mereka kini berada di posisi yang menguntungkan untuk memprioritaskan pasokan ke segmen server dan AI yang membayar harga tertinggi, sebelum mengalokasikan sisa pasokan ke pasar konsumen yang memiliki margin lebih rendah.
Pax Insight
Masalah ini tampaknya tidak akan berakhir sampai di industri saja. Namun, menurut tim pax.id, bagi konsumen umum, kekurangan DRAM ini lebih akurat disebut sebagai 'mimpi buruk'. Pasalnya, kelangkaan ini nggak hanya memengaruhi harga modul RAM saja, tetapi juga akan memengaruhi harga perangkat konsumen terkait lainnya, seperti motherboard, laptop, dan bahkan smartphone.
Di Indonesia sendiri, masalah ini sudah mulai terlihat dampaknya. Menurut pantauan tim pax.id, di ecommerce, harga RAM sudah mulai naik. Kenaikannya dibandingkan dengan Oktober 2025 sudah mencapai 20% hingga 30%. Dengan makin langkanya chipset, kemungkinan besar harga dari RAM dan bahkan SSD akan melonjak tinggi.



