AI
Rabu, 27 Mei 2026 18:22 WIB

Sambut era AI, Telkom University bersama Ruang Tengah Digital Network gelar seminar edukasi AI

Sambut era AI, Telkom University bersama Ruang Tengah Digital Network gelar seminar edukasi AI

Telkom University bersama Ruang Tengah Digital Network sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi interaktif berupa gelar wicara atau talkshow di Telkom University Jakarta Kampus 1 pada Selasa 26 Mei 2026. Acara ini mengangkat topik krusial mengenai apakah kehadiran kecerdasan buatan atau AI akan bermutasi menjadi ancaman yang menakutkan atau justru membuka peluang baru bagi masa depan profesi desainer grafis di dunia kerja.

Ai jadi masa depan konten

Lompatan kemampuan teknologi kecerdasan buatan dalam memproduksi gambar serta video secara instan lewat rekayasa instruksi teks atau prompt engineering memicu kekhawatiran massal di kalangan akademisi mengenai potensi tergantikannya tenaga kerja manusia. Diskusi ini sangat penting untuk memberikan pemahaman objektif bagi puluhan mahasiswa program studi Desain Komunikasi Visual atau DKV yang hadir agar mereka dapat menyikapi kehadiran alat digital mutakhir ini secara bijak terukur serta bertanggung jawab demi meningkatkan produktivitas.

Apa saja detailnya?

Optimasi Efisiensi Waktu Kerja: Praktisi Komunikasi Digital Didit Putra Erlangga menjelaskan bahwa proses tradisional seperti riset pembuatan sketsa manual hingga revisi klien yang biasanya memakan waktu berjam jam kini dapat dipangkas secara signifikan berkat bantuan teknologi AI. Hal ini memberikan kebebasan bagi para desainer untuk memiliki lebih banyak waktu luang yang dapat dialokasikan khusus pada aspek pemikiran kreatif.

Keterbatasan Esensial Mesin AI: Didit menekankan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan posisi desainer manusia sepenuhnya karena teknologi ini tidak dibekali dengan modal rasa empati kemampuan bercerita atau storytelling kapasitas membangun relasi kepercayaan keaslian ide serta pemahaman mendalam terhadap konteks sosial sekitar.

Konsep Alur Kerja Kerja Baru: Kehadiran AI melahirkan standardisasi manajemen kerja baru di mana fase awal pembuatan konsep kasar visual dipermudah oleh mesin namun tahapan akhir yang melibatkan pengambilan keputusan kurasi karya serta penyampaian narasi tetap wajib memprioritaskan peran mutlak dari manusia.

Pentingnya Kualifikasi Sertifikasi: Manajer Pertumbuhan dan Inovasi Produk Simpati Beyond Telco Telkomsel Ario Pudianingrat menyarankan para mahasiswa untuk membekali diri dengan sertifikasi kompetensi AI resmi yang dapat diakses melalui platform global seperti Google Microsoft dan Coursera guna meningkatkan nilai tawar mereka di bursa pencari kerja.

Tingginya Angka Penetrasi Digital: Data menunjukkan bahwa 50 persen generasi Z di Indonesia aktif menggunakan kecerdasan buatan. Berdasarkan Chegg Global Student Survey 2025 Indonesia bahkan bertengger di urutan pertama dengan 95 persen pelajar memanfaatkan teknologi tersebut. Survei Tirto dan Jakpat turut merekam sebanyak 87 persen pelajar memakai AI untuk menyelesaikan tugas akademik mereka.

Dampak Produktivitas Pekerja: Implementasi kecerdasan buatan dalam lingkup profesional terbukti mampu mempercepat durasi penyelesaian tugas kerja sebesar 25 persen dengan peningkatan standar kualitas hasil mencapai 40 persen lebih tinggi serta mendongkrak level produktivitas total hingga 4 kali lipat. Indonesia sendiri tercatat menduduki peringkat ke-8 dalam lalu lintas kunjungan platform AI global dengan torehan 304 juta kunjungan sepanjang tahun 2025.

Pax insight

Kecerdasan buatan pada hakikatnya merupakan alat bantu paling kuat yang pernah ada di tangan para pekerja kreatif. Para desainer grafis yang mau belajar menguasai teknologi ini tidak akan kehilangan pekerjaan mereka di masa depan. Sebaliknya risiko kehilangan mata pencaharian justru akan mengancam para desainer yang memilih bersikap pasif dan hanya menunggu kepastian industri sebelum mulai bergerak mempelajari perangkat baru seperti Perplexity dan ChatGPT.