ByteDance dikabarkan menunda peluncuran global alat pembuat video berbasis AI miliknya, Seedance 2.0, setelah muncul kontroversi terkait dugaan penggunaan materi berhak cipta dalam pelatihan model tersebut.
Kenapa ini penting?
Kontroversi ini menyoroti semakin besarnya perhatian industri terhadap penggunaan data pelatihan AI generatif, terutama yang berkaitan dengan hak cipta dan kemiripan identitas publik. Kasus seperti ini berpotensi memengaruhi cara perusahaan teknologi mengembangkan model AI generatif di masa depan.
Kontroversi hak cipta & respons ByteDance
Sekitar satu bulan lalu, Seedance 2.0 pertama kali dirilis di China. Namun, tak lama setelah peluncurannya, beberapa studio besar Hollywood mengirimkan surat cease-and-desist kepada ByteDance karena khawatir model AI tersebut dilatih untuk menggunakan konten berhak cipta tanpa izin.
Beberapa perkembangan yang memicu kontroversi ini antara lain:
- Keberatan dari studio seperti The Walt Disney Company dan Skydance Media.
- Munculnya video AI viral, termasuk klip yang menampilkan Brad Pitt bertarung dengan Tom Cruise.
- Kekhawatiran bahwa model AI mungkin dilatih menggunakan materi berhak cipta atau kemiripan wajah selebritas.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, ByteDance tengah memperkuat sistem perlindungan untuk mencegah penggunaan karya berhak cipta maupun identitas seseorang secara tidak sah.
Pax Insight
Kasus Seedance 2.0 ini menunjukkan bahwa teknologi video generatif berbasis AI kini semakin dekat dengan industri hiburan, yang secara langsung berkaitan dengan hak cipta dan identitas publik. Serta, jadi tantangan bagaimana memastikan model AI dilatih dan digunakan secara legal serta etis di tengah tekanan dari industri kreatif global.



