Kabar mengejutkan datang dari NVIDIA terkait chip AI generasi berikutnya, Rubin GPU. Hanya berselang beberapa hari setelah CEO Jensen Huang mengumumkan penerimaan sample Rubin GPU pertama di laboratorium, kini dilaporkan bahwa chip tersebut sudah memasuki jalur produksi.
Laporan tersebut muncul setelah kunjungan Jensen Huang ke TSMC di Taiwan, menandai percepatan timeline yang luar biasa. Langkah gerak cepat ini menunjukkan keseriusan NVIDIA untuk segera menghadirkan framework komputasi AI gelombang berikutnya ke pasar.
Sementara itu, beberapa minggu yang lalu, Jensen Huang sempat memamerkan Vera Rubin Superchip untuk pertama kalinya pada ajang GTC 2025 di Washington. Superchip masif ini terdiri dari dua GPU yang ditumpuk bersama Vera CPU generasi berikutnya, lengkap dengan memori LPDDR di bagian luar.
Superchip inilah yang akan menjadi kerangka dasar untuk komputasi AI di pusat data (data centers). Dengan Rubin yang sudah masuk produksi, NVIDIA mengamankan posisi mereka untuk mendominasi era next-wave AI, apalagi didukung oleh TSMC yang bekerja keras memenuhi permintaan besar ini.
Meskipun Rubin mulai diproduksi, permintaan terhadap GPU Blackwell dan Blackwell Ultra saat ini tetap nggak terbendung. Jensen Huang sendiri menekankan bahwa permintaan untuk Blackwell sangat kuat, tidak hanya untuk GPU, tetapi juga untuk CPU, network chips, switches, dan berbagai chip terkait Blackwell lainnya yang juga diproduksi NVIDIA.
Tingginya permintaan ini memicu TSMC untuk mengambil tindakan cepat: mereka dikabarkan meningkatkan produksi 3nm sebesar 50% untuk mempersiapkan diri secara optimal dalam menghadapi kebutuhan Rubin GPU di masa depan, seperti lapor Wccftech (10/11).
Presiden TSMC, C.C. Wei, secara terbuka mengakui bahwa NVIDIA ingin lebih banyak wafer dan chip. Saat ditanya mengenai jumlah pasti chip yang diminta NVIDIA, Wei hanya menjawab singkat, "Rahasia". Respon ini menegaskan bahwa volume permintaan chip dari NVIDIA pastilah sangat masif, mengingat tingginya permintaan terhadap GPU Blackwell saat ini. Hubungan kerja sama yang close dan responsif antara NVIDIA dan TSMC menjadi kunci utama dalam menjaga rantai pasok dan memenuhi kebutuhan pasar AI global yang terus meledak.
Selain kabar GPU Rubin yang masuk produksi, laporan juga menyebutkan bahwa NVIDIA telah berhasil mendapatkan sampel memori generasi berikutnya, yaitu HBM4, dari berbagai produsen utama (all major suppliers). HBM4 ini akan menjadi fitur utama pada Rubin GPU. Langkah ini menunjukkan strategi antisipatif NVIDIA.
Mengingat mereka secara historis selalu mendapatkan DRAM dari banyak perusahaan, dan ditambah dengan pengalaman shortage memori baru-baru ini, NVIDIA prefer memastikan semua supplier terlibat sejak awal untuk mengamankan pasokan.
NVIDIA telah mengindikasikan bahwa Rubin GPU diperkirakan akan memasuki mass production (produksi massal) sekitar Q3 2026, atau bahkan lebih cepat. Penting untuk dicatat bahwa istilah "mass production" berbeda dari "risk production," yang menunjukkan bahwa perusahaan sedang mempersiapkan scale up produksi yang sesungguhnya. Jendela waktu ini menunjukkan bahwa timeline pengembangan NVIDIA berjalan sesuai rencana, jika tidak lebih cepat, dalam upayanya mempertahankan dominasi pasar accelerator AI.
Peran Rubin sebagai standar next-gen GPU AI semakin diperkuat oleh laporan kerja sama senilai USD100 miliar dengan OpenAI. Kemitraan besar ini akan memanfaatkan accelerators generasi berikutnya dari NVIDIA — yang tentu saja mencakup Rubin GPU — untuk pusat data mereka.
Kolaborasi ini menunjukkan betapa krusialnya chip Rubin dalam mendorong batas kemampuan AI, dan mengukuhkannya sebagai hardware fundamental di balik evolusi model bahasa besar (Large Language Models/LLM) dan teknologi kecerdasan buatan terdepan lainnya.



