NVIDIA selama ini dikenal sebagai kekuatan disruptif utama dalam industri kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, posisi puncak yang kini mereka rasanya diprediksi sudah tidak lagi aman karena para kompetitor yang ada di bidang yang sama saat ini sudah semakin agresif dalam mengenmangkan produk mereka.
Menurut Stephen Witt, penulis biografi Jensen Huang berjudul "The Thinking Machine", Google bisa menjadi "kryptonite" atau kelemahan terbesar bagi perusahaan berlogo hijau tersebut. Dalam wawancaranya di acara Opening Bid Yahoo Finance, Witt memperingatkan bahwa jika Google berhasil memenangkan perlombaan AI ini, NVIDIA akan berada dalam masalah besar karena ketergantungan industri pada GPU mereka bisa mulai goyah.
Gemini dan TPU: Senjata Rahasia dari Mountain View
Ancaman yang dibawa Google bukan sekadar teori, melainkan didukung oleh kemajuan pesat model bahasa besar (LLM) Gemini dan penggunaan Tensor Processing Units (TPU). Berbeda dengan perusahaan lain yang masih antre untuk mendapatkan chip NVIDIA, Google telah melatih model AI mereka secara mandiri menggunakan TPU buatan sendiri.
Hal ini memungkinkan Google untuk mengoptimalkan performa AI secara vertikal tanpa harus bergantung pada pasokan perangkat keras dari luar, sebuah langkah strategis yang mulai diikuti oleh raksasa teknologi lainnya.
Di sisi lain, debat mengenai efisiensi TPU versus GPU NVIDIA telah berlangsung lama, mencakup aspek beban kerja komputasi hingga masalah rantai pasokan. Meskipun Google saat ini menghadapi kendala manufaktur akibat hambatan pengemasan tingkat lanjut, NVIDIA telah mengamankan lini pasokan mereka hingga bertahun-tahun ke depan.
Namun, seperti dilansir dari laman Wccftech (22/12), jika mereka fokus hanya pada sirkuit terpadu spesifik aplikasi (ASIC), silikon kustom milik Google dianggap sebagai yang paling kompetitif. Jika arsitektur ini diadopsi secara luas oleh pelanggan eksternal, dominasi pasar NVIDIA bisa terkikis secara signifikan.
Tapi, tetap saja di balik kesuksesan NVIDIA mencapai valuasi triliunan dolar, Stephen Witt mengungkapkan fakta menarik mengenai psikologi sang CEO, Jensen Huang. Alih-alih didorong oleh rasa optimisme yang meluap-luap, Jensen justru digerakkan oleh emosi negatif seperti rasa takut akan kegagalan, rasa bersalah, dan bahkan rasa malu. "Ketakutan bahwa NVIDIA bisa hancur kapan saja adalah apa yang membuat Jensen bangun di pagi hari dan bekerja sangat keras," ujar Witt. Mentalitas ini yang membuat NVIDIA terus berinvestasi pada setiap teknologi baru sebelum pesaingnya sempat bergerak.
Bagi seorang pemimpin yang telah membawa perusahaan ke valuasi hingga $5 triliun (per data Desember 2025), mempertahankan posisi teratas bukanlah tugas yang mudah. Jensen Huang dikenal sering merasa tidak nyaman ketika segala sesuatu berjalan terlalu lancar; ia justru lebih tenang saat menghadapi kesulitan besar. Budaya perusahaan yang ia bangun sangat fokus pada eksekusi dan ketahanan, sebuah cerminan dari pengalamannya sebagai imigran yang harus berjuang keras sejak usia muda untuk membuktikan diri di industri teknologi yang kejam.
Munculnya Pesaing Baru: AMD, Amazon, hingga Meta
NVIDIA kini berada di posisi yang jauh lebih sulit dibandingkan beberapa tahun lalu dalam hal kompetisi pasar. Perusahaan-perusahaan besar seperti AMD, Google, Amazon, bahkan Meta mulai melangkah maju dengan solusi perangkat keras AI mereka sendiri. Meta dikabarkan mulai mempertimbangkan penggunaan TPU Google untuk infrastruktur masa depan mereka, yang menunjukkan bahwa loyalitas terhadap ekosistem NVIDIA mulai diuji oleh efisiensi biaya dan performa alternatif yang ditawarkan oleh para pesaingnya.
Untuk itu, langkah NVIDIA ke depan dipastikan akan diawasi secara ketat oleh para investor dan pengamat industri. Dengan hadirnya berbagai ancaman dari sektor custom silicon dan ambisi besar Google melalui ekosistem Gemini, strategi navigasi Jensen Huang akan sangat menentukan masa depan revolusi komputasi ini. Ketangguhan mental yang didorong oleh rasa takut gagal tersebut akan diuji sepenuhnya dalam lingkungan yang kini jauh lebih kompetitif, di mana inovasi sepersekian detik bisa menjadi penentu antara tetap menjadi raja atau tersingkir dari takhta.



