Gawai
Minggu, 26 Oktober 2025 12:51 WIB

IBM berhasil jalankan algoritma Quantum Computing pakai CPU AMD

IBM sukses menjalankan algoritma QEC pada FPGA AMD 10 kali lebih cepat dari perkiraan. Keberhasilan ini menunjukkan QEC dapat dioperasikan menggunakan hardware yang tersedia di pasaran, bukan hanya chip khusus yang mahal.

IBM kembali mencatatkan tonggak penting dalam perlombaan quantum computing, sebuah teknologi yang sedang dikebut pengembangannya bersama dengan Google. IBM berfokus pada pengembangan yang lebih "arus utama", dan pengumuman terbaru mereka menunjukkan terobosan besar.

Dilansir dari laman Reuters, IBM berhasil menjalankan algoritma koreksi kesalahan kuantum (Quantum Error Correction atau QEC) pada FPGA AMD (Field-Programmable Gate Array). Yang lebih mengesankan, implementasi ini dicapai sepuluh kali lebih cepat dari yang diperkirakan semula.

Jay Gambetta, Director of IBM Research, mengatakan bahwa pekerjaan ini membuktikan bahwa algoritma IBM tidak hanya berfungsi di dunia nyata, tetapi juga dapat beroperasi pada chip AMD yang tersedia di pasaran dan "tidak terlalu mahal." Hal ini merupakan pencapaian signifikan karena mengatasi salah satu hambatan terbesar dalam mengkomersialkan quantum computing.

Mengapa QEC Krusial dan Peran Kunci FPGA AMD

Bagi yang belum familier, algoritma QEC sangat penting dalam quantum computing. Komputasi kuantum melibatkan qubit, yang jauh berbeda dari bit biner klasik, karena qubit sangat rapuh dan mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan, bahkan oleh sedikit getaran. Di sinilah QEC berperan: algoritma ini digunakan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan tersebut tanpa merusak kondisi qubit, memastikan perhitungan tetap valid.

Alasan mengapa FPGA AMD (yang merupakan hasil akuisisi AMD terhadap Xilinx) terbukti menjadi platform komputasi yang memadai untuk QEC adalah karena sifatnya sebagai hardware yang dapat dikonfigurasi ulang (reconfigurable). Fitur ini memungkinkan tugas yang disesuaikan dilakukan dengan efisiensi yang sangat tinggi. Dalam kasus koreksi kesalahan, dibutuhkan umpan balik (feedback loop) yang kuat yang memerlukan latensi sangat rendah, dan FPGA AMD sangat cocok untuk tugas ini.

Yang paling penting, terobosan ini secara efektif mengalihkan sebagian komputasi kuantum klasik ke hardware "off-the-shelf"—perangkat keras yang sudah tersedia—sehingga menghilangkan kebutuhan akan chip silikon kustom yang mahal dan rumit.

Strategi Berbeda di Tengah Frenzy AI

Perkembangan ini memperlihatkan perbedaan strategi antara pemain besar. NVIDIA, misalnya, berfokus pada tech stack komprehensif, melibatkan DGX Quantum dengan CUDA-Q di dalamnya. Solusi NVIDIA tentu juga memadai untuk algoritma QEC dan bahkan mungkin menghasilkan performa yang lebih baik dari FPGA. Namun, pencapaian AMD di sini bukan hanya tentang menjalankan algoritma QEC, melainkan tentang penggunaan hardware komoditas. Hal ini adalah sesuatu yang belum dicapai NVIDIA, sebagian karena NVIDIA tidak memiliki aset di bidang reconfigurable hardware seperti unit Xilinx milik AMD.

Quantum computing adalah bidang baru yang muncul di tengah puncak demam AI. Akan sangat menarik untuk melihat bagaimana produsen hardware seperti NVIDIA dan AMD akan terus mengembangkan strategi mereka ketika quantum computer menjadi "infrastruktur AI" berikutnya di masa depan.